Dedi Mulia dan Rachmita harahap Difabel sukses meraih gelar master

Dedi Mulia dan Rachmita Harahap, Difabel yang Sukses Raih Gelar Keterbatasan fisik bukan menjadi halangan untuk meraih (Dan Konas Menwa) menetapkan Dedi Dan juga, sudah seharusnya anak berkebutuhan khusus itu selalu dipandang sebelah mata dan dikecilkan. Baca Juga: Dedi Mulia dan Rachmita Harahap, Difabel Sukses Dedi Mulia dan Rachmita Harahap, Difabel yang Sukses Raih Gelar Master. Keterbatasan fisik bukan menjadi halangan untuk meraih hingga meraih gelar master.
Dedi Mulia dan Rachmita harahap Difabel sukses meraih gelar master

dedi mulia dan rachmita harahap difabel sukses merah gelar master - Keterbatasan fisik yang dirasakan oleh dua insan ini, Dedi Mulia dan Rachmita Harahap bukan alasan untuk tidak meraih kesuksessannya. Setidaknya hal inilah yang dibuktikan oleh mereka penyandang disabilitas. Dedi merupakan penyandang tunanetra. Menajubkannya, dia telah memiliki dua gelar sarjana dan menyabet gelar master pula.
"Saya S1 di Fakultas Perikanan & Kelautan IPB dan UNJ. Selanjutnya, S2 di UPI Bandung. Dan saya juga sekarang aktif mengajar di salah satu Universitas di Serang, Banten," Terangnya kepada perwakilan Ditjen Dikti Kemendikbud.
Dia menceritakan, sewaktu mendaftar di Institut Pertanian Bogor (IPB) dirinya sempat ditolak mentah-mentah oleh panitia pendaftaran Mahasiswa baru, meskipun demikian, Deni tidak mau menyerah begitu saja. Dia mengatakan bahwa mnedaftar dan melanjutkan kuliah adalah haknya. "Saya memang buta, namun saya tidak buta hati. Hak saya adalah mendaftar dan melanjutkan kuliah,"Ujarnya saat itu kepada panitia pendaftaran.
Deni mengaku tidak ada kesulitan ataupun kesulitan selama mengikuti perkuliahan. Sehingga, dia mendorong pemerintah supaya tidak membatasi kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk memasuki jenjang perguruan tinggi. Sebab, perguruan tinggi merupakan salah satu jalan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
"Perguruan Tinggi menjadi salah satu jembatan pengantar kami yang menyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan, kalau untuk pendaftaran saja dibatasi bagaimana kami bisa bekerja? Ini (Persyaratan SNMPTN) bukan membuat kehidupan kami lebih baik, tapi malah sebaliknya membuatnya semakin jatuh," ujarnya.
****
Berbeda lagi dengan kisah Rachmita Harahap. Perempuan ini adalah penyandang Tunarungu, dia berhasil menamatkan pendidikan S1 Fakultas Arsitektur di Universitas Mercu Buana (UMB), Jakarta dan S2 di Fakultas Arsitektur Interior di Institut Teknologi Bandung (ITB). Bahkan saat ini dia sedang melanjutkan S3-nya di jurusan Arsitektur Interior di UMB.
"S1 dan S2 saya berhasil lulus lebih awal dengan predikat cumlaude. Apa bedanya kalau tunarungu punya potensi ? Tunarungu memand tidak mendengar, tapi saya menggunakan mata untuk mendengar," Kata Rachmita.
Dia pun menceritakan tidak mengalami hambatan yang berari selama ia mengikuti kegiatan perkuliahan. Ini membuktikan, kalau jurusan Arsitektur bisa diikuti oleh penyandang tunarungu dengan baik.
Menurut Rachmita, ketertinggalan penyandan tunarungu dalam negeri dan luar negeri adalah diskriminasi seperti ini. Tak ayal, ia memiliki mimpi untuk membangun sebuah Universitas untuk penyandang tunarungu agar tidak ada lagi penyandang tunarungu di pandang sebelah mata.
"Saya harap kepada panitia tolong hapus persyaratan SNMPTN yang tak diperbolehkan bagi penyandang disabilitas, karena kita bisa berpikir layaknya orang normal. Kita ini sama-sama ciptaan Tuhan. Tunarungu di luar negeri bisa maju, sementara di Indonesia tertinggal. Hapuskan diskriminasi!". gugatnya.
referensi : news.detik.com

source : http://docstoc.com, http://www.fandinistic.com, http://cnn.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENEMUAN MUMI DINASTY KE-17 DI MESIR