[Cerita] Amanda, Seorang Non-Muslim Amerika yang Memilih untuk Berjilbab

Wanita ni bernama Amanda. Saat ni Ia tinggal di Sacramento, California. Dia adlh lulusan dari University of Utah dan meraih gelar BA dlm Studi Internasional dan Arab. Amanda kini sedang mengejar gelar Ph.D. di jurusan Kebudayaan Dunia.
Amanda, Seorang Non-Muslim Amerika yang Memilih untuk Berjilbab
Sekilas, memang tak ada hal baru yg kita lihat dari fotonya. Apa anehnya jika seorang wanita berwajah kearab-araban berjilbab? Bukankah jilbab seperti ni identik dgn muslim / budaya Arab?
Sebenarnya, Amanda ni bukan berasal dari negara Arab. Tapi Ia adlh seorang wanita non-Muslim asal Amerika yg memilih untk mengenakan jilbab. Ia sudah memutuskan secara permanen bahwa Ia hanya akan menampilkan wajah dan tangan di depan umum. Ia sangat menikmati pilihan hidupnya tersebut.
Ketika Ia masih muda, ia menemukan fakta bahwa berjilbab adlh sebuah cara bagi seorang wanita untk tampak lebih cantik. Di sisi lainnya, Ia jg memikirkan tentang adanya banyak mitos seputar jilbab yg membuatnya jadi takut untk mencari tahu lebih lanjut tentang itu.
Dimasa kuliah itulah ia mulai belajar dari teman-teman Arab Muslim di kelasnya tentang jilbab. Beberapa gadis jg mengenakan jilbab. Meskipun ia menyukai tampilan dan menghormati hak mereka untk memakainya, ia berpikir bahwa memakai jilbab adlh sebentuk penindasan kepada wanita.
Disaat yg bersamaan, Amanda mulai risih saat mendapati bahwa beberapa lelaki di universitasnya secara terang-terangan berbicara tentang teman wanita sekelasnya sedemikian rupa seolah-olah wanita hanyalah sebuah potongan daging yg bergerak. Ia mulai sering mendengar cerita yg tak ingin didengarnya tentang apa yg ingin lelaki tersebut lakukan untk gadis ni / itu sehingga Ia mulai memperhatikan bagaimana wanita disekitarnya menampilkan dirinya. Dari waktu ke waktu, ia jg sering memergoki banyak laki-laki yg menatapnya dgn cara tak pantas. Tapi Ia hanya mengabaikannya. Begitu mendengar percakapan para lelaki dan memperhatikan pandangan lelaki terhadap seorang perempuan, ia tak bisa mengabaikannya lagi hal tersebut.
Ia bertanya kepada teman sekelsanya bagaimana pendapatnya tentang para lelaki yg memandang wanita dgn cara seperti itu. Tanggapan yg sering Ia dpt adlh “boys will be boys,” / “it’s just their biology, they can’t help their behavior.” Ia merasa bahwa hal itu ada benarnya juga. Sehingga Ia berpikir bahwa ketidaknyamanannya terhadap hal tersebut hanya masalah pribadi dgn dirinya sendiri. Ia mencoba memahami bahwa orang-orang memang memiliki hak untk berperilaku dgn cara mereka dan sehingga Ia tak punya hak untk menghentikan mereka.
Namun, pandangannya mulai berubah ketika ia sudah bertunangan.
Baginya, tunangannya adlh belahan jiwanya. Ia dan tunangannya bertemu di SMP dan berteman selama bertahun-tahun sebelum mereka mulai berkencan. Ketika sedang kencan, tunangannya selalu memperlakukannya dgn rasa hormat. Perlakuan hormat dari tunangannya itulah yg membuat Ia akhirnya mantap untk menikah. Pernikahan tersebut adlh hal terindah dlm hidupnya.
Setelah Ia membuat keputusan untk hanya berkomitmen kepada suaminya, ia merasa bahwa tak ada yg memiliki hak untk memperlakukannya seperti objek seks mereka. Setiap kali ia mendapati ada lelaki yg menatapnya dgn cara tak tepat, ia tak lagi merasa nyaman, bahkan ia merasa jadi ingin marah. Tapi Ia masih tak tahu apa yg bisa ia lakukan saat itu terjadi.
Akhirnya, suatu hari Amanda melihat seorang teman perempuan berjilbab di kampusnya. Ia berlari untk menyapa wanita berjilbab itu. Tanpa disangka, wanita itu berjalan mendekatinya dan untk beberapa alasan, Amanda malah minder dgn wanita itu. Padahal wanita itu cuma mengenakan scraft (kain panjang yg biasanya digunakan untk jilbab) dan memakai abayaa (pakaian panjang berbentuk jubah) seperti yg biasa wanita itu kenakan. Dengan pakaian itu wanita tersebut tampak anggun dan kuat dimatanya.
Amanda berfikir, "Wow, Suatu hari saya ingin terlihat seperti itu!"
Akhirnya Ia pun mulai mencari tahu tentang jilbab. Ia belajar lebih banyak tentang alasan mengapa Muslim mengenakan jilbab, bagaimana jilbab bisa memenuhi syarat sebagai sebuah jilbab dan cara memakai jilbab yg benar. Ia jg menonton tutorial hijab di youtube dan browsing di toko jilbab online. Sehingga dgn itu Ia makin terkesan dgn bagaimana para perempuan berjilbab itu memancarkan sesuatu yg berkelas dan anggun. Ia jadi ingin sekali menjadi seperti wanita seperti itu. Hingga akhirnya Ia sama sekali tak dpt mengalihkan pikirannya dari Jilbab. Jilbab telah jadi bagian dari mimpinya.
Ia mengakui bahwa ada banyak hal yg Ia sukai tentang jilbab. Ia sepakat bahwa jika tubuhnya tertutup oleh jilbab, maka akan ada lebih banyak kontrol atas tubuhnya sendiri dan Ia jg mempelajari adanya perbedaan sudut pandang dunia luar melihat hal tersebut. Tapi di sisi lain, pemikiran feminisnya yg kuat membuatnya yakin bahwa wanita dan pria harus memiliki hak yg sama dlm masyarakat. Sehingga Ia berfikir jika lelaki memperlakukan wanita sebagai obyek seks, maka hal tersebut merupakan bentuk ketidakadilan. Apalagi Ia jg mendapati fakta bahwa perempuan dlm masyarakat Amerika dipandang rendah jika mereka tak berpakaian dgn pakaian yg atraktif di mata para lelaki.
Menyikapi itu, ia berkata, "Saya percaya bahwa para wanita tak harus mengikuti sebuah standar konyol kecantikan yg mengawang-awang. Jilbab adlh cara untk bebas dari itu."
Baginya, cara berjilbab baik adlh dilengkapi dgn keyakinan feminis tentang keyakinan bahwa jilbab itu lebih dari sebuah pakaian wanita. Karena yg Ia pahami, jilbab adlh tentang bagaimana pria dan wanita seharusnya berinteraksi di ranah publik. Toh Pria jg berpakaian dgn menutupi area tertentu tubuhnya. Hingga akhirnya laki-laki dan perempuan dpt memperlakukan satu sama lain dgn penuh hormat sehingga satu sama lain dpt bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Itulah cita-cita jilbab yg Ia pahami.
Di titik ini, Ia yakin bahwa keinginannya adlh memakai jilbab. Tapi, ia memiliki masalah. Ia takut jika Ia mengenakan jilbab sebagai non-muslim, Ia akan menyinggung ajaran Islam. Ia jg takut untk meminta saran dari teman-temannya. Hingga akhirnya Ia menemukan sebuah video youtube menjelaskan bahwa hal seperti itu bukalah hal yg menyinggung ajaran Islam. Tapi hal tersebut belum membuatnya yakin dgn keputusannya.
Amanda, Seorang Non-Muslim Amerika yang Memilih untuk Berjilbab
Amanda dgn Suaminya
Setelah berminggu-minggu memikirkan jilbab, Ia akhirnya memberanikan diri untk bertanya kepada salah satu temannya tentang kegelisahannya itu. Temannya mengatakan bahwa dia maupun ajaran Islam tak akan merasa tersinggung dgn non-muslim yg mengenakan jilbab. Temannya tersebut menunjukkan bahwa Muslim bukanlah satu-satunya ajaran yg menganjurkan pemeluknya untk memakai jilbab. Karena ada banyak wanita Yahudi dan Kristen yg memakainya juga.
Saat Ia mulai memakai Jilbab selama beberapa minggu. Ia merasa nyaman dan selalu memakainya ketika Ia akan meninggalkan rumah. Waktu Ia magang di Yordania, Ia sempat khawatir kalau Yordania tak akan menerima jika seorang non-muslim memakai jilbab.
Ternyata, setelah Ia turun dari pesawat, yg terjadi malah sebaliknya! Ketika Ia memberitahu orang-orang bahwa Ia adlh seorang non-Muslim Amerika, mereka malah sangat senang. Orang-orang mengatakan bahwa jilbab memang bagus untk Amanda. Beberapa orang justru bersimpati karena dgn memakai jilbab Amanda telah menunjukkan rasa hormat terhadap budaya mereka. Hal terbaik yg dirasakan Amanda adlh ketika ada seorang lelaki yg melompat saking gembiranya saat mengetahui bahwa Ia adlh seorang non-muslim berjilbab! Orang-orang tersebut lah yg memberinya kekuatan ekstra saat Ia merasa canggung ataupun merasa marah jika ada orang yg memberikan pertanyaan seputar jilbabnya.
Kadang-kadang Amanda masih mendapati ada lelaki yg menatapnya dgn cara tak sopan. Tapi akhirnya Ia mengambil hal positif dari hal tersebut bahwa meskipun para lelaki itu mencoba untk "melihatnya", mereka masih tak bisa "melihat" apa yg mereka inginkan. Jilbab membuatnya mengerti bahwa tubuh adlh hak pribadinya. Ia berkata, "Selamanya saya akan berterima kasih kepada para wanita Muslim yg mengajarkan jilbab padaku"
---
Disarikan dari hautehijab.com dgn perubahan seperlunya. Haute Hijab adlh sebuah website yg menjual jilbab secara online dan memberikan kesempatan kepada pelanggannya untk menceritakan pengalaman berjilbab mereka. Cerita ni adlh sebuah surat yg dikirim oleh Amanda yg ingin berbagi pengalamannya saat memutuskan berjilbab. Sayangnya, Amanda tak menyebutkan nama lengkap, agama/kepercayaan apa yg Ia anut / data lainnya yg memungkinkan kita memverifikasi ceritanya lebih lanjut. Tapi, cerita Amanda -terlepas dari benar / tidaknya cerita tersebut- tetap memberikan sebuah pandangan logis mengapa seseorang menganggap bahwa Jilbab adlh sesuatu yg penting, terlepas dari apapun ajaran agamanya. Kini kita bisa melihat, banyak orang berjilbab tanpa memiliki argumen yg kuat mengapa Ia memutuskan untk berjilbab. Karena kini jilbab hanya dianggap sebagai fashion belaka tanpa menyentuh makna filosofis tentang makna jilbab itu sendiri.

source : http://syaharbanu.blogspot.com, http://flickr.com, http://solopos.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENEMUAN MUMI DINASTY KE-17 DI MESIR