SAYID DAN CATATAN HARIAN PENDERITA TUMOR
jonygoblog.blogspot.com - Dari ke - 4 anak yg kami miliki, Sayid adalah anak kami yg paling dekat dgn suamiku . Mereka memiliki hobi yg sama, suka akan tumbuhan, binatang, senang dgn suasana pantai. Karenanya, saat Abi (panggilan untuk Ayah) pergi ke Belitung untuk sesuatu urusan, Sayid selalu turut serta. Biasanya Sayid ikut jika waktu berangkat ke Belitung bertepatan dgn liburan sekolah.
Suamiku berasal dari Belitung, tepatnya di desa Tanjung Binga. Saat ini Tanjung Binga tengah menjadi destinasi tujuan wisata, karena letaknya yg berdekatan dgn pantai Tanjung Tinggi. tempat dimana syuting film terkenal "Laskar Pelangi" dilaksanakan.
Semenjak menikah tahun 2000 silam terhitung sekitar 6 kali kami sekeluarga pergi ke Belitung, biasanya keberangkatan dilaksanakan untuk silaturahim Idul Fitri. Terakhir kami berangkat sekeluarga di Desember tahun 2010. Berbeda dgn anggota keluarga lainnya, Sayid sempat 3 kali berangkat hanya dgn Abi. Bonus untuk Sayid yg memang suka berpetualang. Sayid sangat menikmati alam pedesaan, dia suka diajak kakek turut serta mencari ikan di laut. Dua adiknya masih kecil-kecil untuk ikut serta tanpa kehadiranku. Sementara anakku yg sulung saat itu sudah mulai persiapan UN SD.
Abi pada akhir tahun 2013 lalu mulai menurun kondisi kesehatannya, menjadikan Sayid yg saat itu memasuki usia awal remaja moody bukan kepalang. Abi terpaksa menjalani pengobatan tradisionl "totok syaraf" di Belitung, tanpa kehadiranku dan anak-anak. Abi memang tidak berencana tinggal di sana, kami yakin pengobatan tidak akan berlangsung lama.
Gejolak emosi Sayid turun naik. Sayid bisa terlihat sangat gembira tapi selang beberapa detik bisa berurai airmata. Sayid juga menjadi sangat temperamen. Dia mudah marah untuk hal-hal kecil. Adiknya sering menjadi sasaran amukannya. Tak jarang dia pun marah kepada saya yg menjadi ibunya, untuk hal sepele.
Saya berusaha memahami hal tersebut akibat perubahan hormonal ditubuhnya yg memasuki usia remaja. Juga karena secara psikologis Sayid tidak bisa berdekatan dgn Abi yg bisa memahaminya.
Pelan-pelan saya rubah kebiasaan saya yg kurang memperhatikan hobinya terhadap binatang dan jalan-jalan pagi di hari Minggu. Jika biasanya Minggu pagi saya sibuk mencuci pakaian, kali ini saya bangun lebih pagi mengajaknya olah raga pagi. Menyempatkan menemaninya membeli ikan dan mengobrol hal-hal yg semula bukan menjadi hobi saya, namun saya lakukan demi menggantikan posisi Ayah yg sedang tidak didekatnya. Saat itu, sekali dalam hidup saya menyempatkan diri bersih-bersih kolam ikan di depan rumah Ibu bersama Sayid. Dia nampak senang sekali. Biasanya bersih-bersih kolan ikan jadi tugas Kakeknya yg sudah Almarhum. Ya.. Sayid ditinggal wafat Kakek di awal 2011 hatinya pasti tambah luka karena saat ini menghadapi kenyataan Abi menjalani pengobatan nun jauh di Belitung.
Semenjak Abi menjalani pengobatan di Belitung, kami mengungsi ke rumah Ibu (orang tua saya). Hal tersebut terpaksa kami lakukan karena anak-anak terserang demam berdarah secara bersamaan dan saya melakukan perawatan sendiri di rumah. Hal itu dilaksanakan karena dokter menilai kondisi tubuh anak-anak masih kuat dan saya diminta merawatnya dgn baik serta mengontrol kenaikkan trombosit ke Rumah Sakit.
Pasca sakit DBD dan hari-hari berikutnya, Sayid tinggal di rumah nenek. Hal yg tak mudah karena jarak rumah ke sekolah menjadi jauh, kami harus berangkat pukul 6 pagi dan baru tiba kembali di rumah pukul 7 malam.
Bagi saya, perjuangan yg dilakukan Sayid saat itu tidaklah mudah. Dia harus mempersiapkan diri menghadapi UN, beradaptasi dgn keluarga besar di rumah Nenek. Sayid kehilangan teman bermain dan lingkungan rumah yg ditempatinya semenjak bayi hingga usianya 12 tahun. Pun tatkala sore itu Sayid marah-marah bak orang kesurupan. Matanya berah menyimpan kekesalan yg mendalam. Kami sempat bingung dibuatnya, namun segera Om nya putuskan agar Sayid ikut saya ke Belitung, menjemput Abi yg terbaring sakit. Kami berencana menjemput Abi, guna melanjutkan pengobatan di Bandung.
![]() |
| Tanggal 15 Desember 2013 Alm. menulis pesan ini, untuk saya ingat dan baca setibanya saya di Belitung. |
Saya katakan padanya " Sayid temani Ummi ya jemput Abi di Belitung," Sayid mengangguk pelan.
"Supaya Sayid lihat perjuangan Abi berobat di sana, Abi sedang berjuang ," lanjutku. "Ingat perjuangan Abi ya.. supaya Sayid terus jadi anak sholeh."lanjutku.
Perjuangan membawa suami berobat dari Belitung ke Bandung bukan perkara mudah. Kondisi Abi yg sudah sulit duduk apalagi berjalan membuatnya dibawa menggunakan tandu sejak dari rumah, masuk RSUD Belitung kemudian dibawa naik pesawat memasuki RS. Borromeus Bandung.
Hingga akhirnya kami baru mengetahui kondisi sebenarnya, Abi ternyata mengidap tumor ganas. Tumor yg sudah menyebar di beberapa area tubuhnya.
Pengobatan dgn jalan radio terapi dilakukan hingga akhirnya selesai, dan kondisi Almarhum terlihat makin drop. Kami membawanya pulang untuk melanjutkan pengobatan di rumah dgn pengawasan dokter RS. Namun takdir berkata lain, Almarhum meninggal di hari ke -3 di rawat di rumah. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un.
****
![]() |
| Tularkan keyakinan dan semangat pada penderita sakit, karena semangat itu menular. Alhamdulillah |
"Maafkan Abi..,"selalu itu yg dikatakannya setiap pagi.
"Moga Ummi dimudahkan jalan ke syurga,"ucapnya saat aku memandikannya di atas kasur.
Aku selalu membalasnya "Kita saling maaflan ya Bi.. apa yg Ummi lakukan belumlah sepadan dgn apa yg Abi berikan," kataku sambil menggenggam tangannya.
"Sudah jadi kewajiban Ummi merawat Abi,"ucapku dgn tatapan penuh keyakinan bahwa Abi bisa sehat dan berkumpul kembali bersama keluarga.
Pecah juga tangisku saat ciuman terakhir kuberikan di pipinya, saat jenazah akan diberangkatkan ke pemakaman. Ciuman perpisahan, dan akhir dari sebuah pertemuan. Beberapa teman menyadarkanku, dan mengingatkanku untuk tidak meratap. "Aku menahan tangisku selama ini. aku berusaha menjadi wanita tegar dan kuat dihadapannya ," aku berusaha membela diri. Namun salah satu dari mereka membisikkan kalimat ditelingaku " Insha Alloh nanti Alloh kumpulkan lagi di SyurgaNya.. jangan meratap'"pintanya.
***
![]() |
| Pesan Alm. dalam membesarkan anak remaja |
Hari-hari berikutnya tak mudah bagi kami untuk melaluinya terutama bagi Sayid. Setiap Kamis dia sering mengeluh pusing, tidak mau sekolah. Saya tidak marah, namun berusaha memahaminya. Saya ajak Sayid berziarah ke makam Alm kemudian pulangnya langsung berangkat ke Pesantren menengok Kakaknya yg bersekolah di sana.
Alhamdulillah Abang (panggilan untuk kakaknya) mengijinkan Sayid bermain di kamarnya. Saat kami sampai, memang jadwal belajar di Pesantren telah usai. Kubiarkan Sayid dekat dgn Abang sebagai persiapan karena kami merencanakan Sayid bersekolah di pesantren yg sama.
Begitu seterusnya, waktu yg kumiliki (karena aku sengaja mengambil cuti satu semester) untuk lebih dekat dgn anak-anak dan mempersiapkan banyak hal lainnya. Alhamdulillah Sayid berhasil lulus dari SD dgn baik dan mendapat nilai UN memuaskan. Padahal dalam 1 tahun berjalan 2 kali Sayid berangkat ke Belitung dan hampir 2 bulan berada di rumah Nenek tanpa kehadiranku yg full menemani Almarhum di rumah sakit..
Memasuki SMP. satu bulan pertama adalah masa pembiasaan sehingga para santri tidak boleh ditengok. Alhamdulilah Sayid bisa mengikutinya dgn baik. Hingga suatu saat, sewaktu jadwal mengaji maghrib di rumah (saat Sayid sedang mengambil libur pulang ke rumah), mataku dibuatnya berkaca-kaca. Sayid bak Ustadz menjelaskan asal kata tajwid, menjelaskan hukum-hukum tajwid dan membacakan hasil hafalan ayatnya selama di Pesantren. Aku terkejut dibuatnya, saat SD memang Sayid bersekolah di SD Negeri, sudah hafal beberapa surat pendek dan sedikit paham aturan membaca Al-Qur'an namun belum kuajari benar mengenai nama-nama hukum dalam bacaan tersebut.
Dilain kesempatan, saat aku selesai berdo's seusai shalat, dia duduk di pangkuanku. Kubisikkan ditelinganya, "Terima kasih ya Sayid, sudah menjadi anak yg sholeh, Abi pasti bangga." ucapku.
Lantas dia menjawab " Ummi juga bangga 'kan?," tanyanya
"Tentu saja, karena Ummi melihat langsung bagaimana perkembangan Sayid sekarang," ucapku.
![]() |
| Kewajiban Ayah bukan sebatas memberikan materi, ilmu agama yg diberikan akan terus tertanam di hati anak. Terima kasih Abi |
Satu lagi yg membuatku menitikkan air mata adalah tatkala mendapati hasil ujian tarikhnya. Bukan perkara nilai yg Sayid peroleh, namun tulisan tangannya tentang Alm. yg membuat hatiku bergetar karenanya.
Bukan hanya aku sendiri yg berupaya menyembuhkan luka batin anakku yg menjadi Yatim. Peran Ibuku, juga kedua adik serta ipar dan ponakan cilikku juga cepat membuat Sayid cepat 'berdamai' dgn satus barunya. Limpahan perhatian dan kasih sayang pada anak-anaku yg kini yatim membuat mereka cepat bisa melewati masa sedih dan segera move on. Om (adikku) selalu menyempatkan diri mengajak Sayid di sela waktunya mengerjakan konveksi, memiliki waktu hanya berdua dgn Om, penganti sosok Ayahnya kini. Juga tentunya peran guru dan wali santrinya di Pesantren demikian besarnya, hingga mampu memberikan kebiasaan positif pada Sayid. Terima kasihku yg tak terhingga, moga keberkahan senantiasa Alloh limpahkan bagi penyayang yatim.
Y Rabb.. terima kasih atas episode terbaikmu dalam hidup kami. Kepergian Alm menjadikan kami lebih mawas diri bahwa dunia ini hanya tempat singgah sementara. Amal yg akan menemani kita.
Selamat jalan Abi..
Terima kasih telah mendidik kami untuk tabah, kuat mandiri dan tegar...
Kita akan selalu bersama walau jarak, ruang dan waktu memisahkan kita..
Do'a kami selalu untukmu...
![]() |
| Kita akan selalu bersama walau jarak memisahkan kita |
****
Catatan harian yg ditulisnya 2 bulan menjelang wafat kini menjadi pengobat rindu dan penguat jiwa.
Ada pesan untuk kami yg termuat di sana.
Ada kata penuh cinta dan semangat yg terasa membara di setiap lembarnya.
Ada banyak pelajaran akan sabarnya Alm menghadapi sakitnya. Moga Alloh Swt menempatkan beliau dalam maqom orang sabar.
Moga kami mampu meneladaninya, zuhud terhadap dunia dan senatiasa bersamaNya dalam setiap keadaan. Tidak menyekutukanNya. Aamiin Ya Rabb..
source : http://youtube.com, http://slideshare.net, http://ummi-aleeya.blogspot.com





Komentar
Posting Komentar