IBU TIRI VS ANAK TIRI: KATA PENGANTAR 46756
jonygoblog.blogspot.com - Yang follow Twitter saya, mungkin tahu kalau beberapa hari yg lalu saya geram dgn sebuah post di forumnya salah satu website wanita yg (katanya) paling kece di Indonesia. Post yg pertama sudah agak lama, akhir tahun lalu. Tapi ketika saya baca, seketika saya langsung emosi dan mendadak badan saya berubah menjadi besar dan hijau *eh itu Hulk* Oke, garing ya. Makanya saya ga pernah coba stand up comedy, tahu diri kalau cocoknya jadi pendamping Eddie Oppa aja. Yuk mari.
Jadi, di forum itu ada seorang perempuan yg berstatus sebagai ibu tiri, dan dia merasa bahwa anak dari suaminya tersebut kerap mengganggu ayahnya dgn ‘persoalan sepele’ seperti beli mainan, beli tas, hingga beli pulsa. Padahal menurutnya, tunjangan bulanan tersebut sudah sangat lebih dari cukup untk seorang anak kelas 3 SD. Saya memang tak membaca hingga akhir cerita, tapi dari beberapa halaman saya dpt menyimpulkan secara kasar bahwa si ibu tiri tak mau kalau anak ni datang ke ayahnya kalau ‘ada maunya saja’. Si ibu tiri berharap istri terdahulu dari suaminya tersebut bisa mendidik anak itu menjadi lebih dekat secara emosional kepada ayahnya, lebih dari sekedar masalah uang.
Overall, saya menangkap maksud baik dari wanita ini, meski penyampaiannya pd post pertama terkesan sangat egois. Hanya kemudian setelah saya bisa berpikir agak jernih, ternyata kasus seperti ni masih sering sekali terjadi ya sister. Oleh karena itu, saya pikir saya bisa membagi sedikit pandangan (dan pengalaman) saya mengenai peristiwa ini.
Tulisan saya sendiri masih dlm proses penyempurnaan, karena saya berusaha keras untk memberikan gambaran efek dari peristiwa perceraian ni untk berbagai pihak: anak tiri, ibu tiri, ayah kandung, ibu kandung, dan saudara tiri. Mungkin akan bertahap ya. Tapi, sebelum nantinya saya mem-publish tulisan saya, ada baiknya sister baca dulu pernyataan saya dibawah ini:
- Tulisan ni bukan bermaksud untk membuka aib keluarga. 2013 gitu lhoh, buka aib orang is so last year. Kesalahan dan kekurangan biar diri sendiri aja yg ngerasa, nanti jg di Hari Akhir semuanya ditampakkan di Pengadilan-Nya. Gusti Allah mboten sare, nggih ;)
- Setiap perceraian adalah kasus per kasus. Tidak ada satupun solusi yg sama yg bisa diaplikasikan ke semua perceraian. Jadi tulisan saya mungkin tak bisa digunakan untk beberapa kasus perceraian lainnya.
- Saya bukan seorang ahli dan tak sedang berpura-pura menjadi ahli di bidang ini. Untuk saran yg lebih bertanggungjawab, silahkan menghubungi pemuka agama, psikolog, pengacara - orang-orang dgn profesi terkait.
- Jika sister memiliki sanggahan, monggo disampaikan dgn santun ke email primaditarahma(at)gmail(dot)com. Saya menerima dgn lapang dada semua kritik tentang tulisan saya ini, mengingat ni adalah pertama kalinya tulisan serius saya di blog ini.
Semoga kita semua diberi akal sehat dlm mengambil keputusan mengenai apapun, termasuk dlm menyikapi tulisan saya.
Terima kasih dan silahkan menuju ke post pertama saya.
Love, Prima
source : http://hipwee.com, http://titasya.blogspot.com, http://instagram.com
Komentar
Posting Komentar